Teknik dan Cara Pembenihan Ikan Kerapu Macan Pada Bak Beton

Posted on

Klasifikasi Ikan Kerapu MacanPembenihan Ikan Kerapu Macan – Salah satu usaha budidaya yang sedang berkembang adalah budidaya perikanan laut. Ikan kerapu (Epinephelus sp) merupakan komuditas perikanan laut yang mempunyai peluang baik dipasar domestik maupun internasional. Ikan kerapu memberikan keuntungan untuk dibudidayakan dengan pertumbuhan cepat dan dapat diproduksi massal.

Persiapan  Wadah

Bak pemeliharaan induk memiliki volume  56 m3 dan berbentuk bulat. Sebelum di gunakan untuk pemeliharaan induk, bak di bersihkan terlebih dahulu. Kondisi bak harus bebas dari kotoran dan lumut yang nantinya dapat menimbulkan penyakit pada saat pemeliharaan termasuk kerang-kerangan yang menempel di dinding bak. Pencucian bak di lakukan dengan cara air di turunkan hingga tersisa 20 cm. bak sebelumnya di siram dan di rendam dengan kaporit yang tujuannya untuk menghilangkan dan membasmi pathogen serta lumut-lumut yang ada. Akan lebih baik bak yang akan di gunakan tersebut dibiarkan kering terlebih dahulu kurang lebih 24 jam.

Selain persiapan bak untuk induk juga disiapkan bak untuk penetasan dan pemeliharaan larva. Sebelum di gunakan ,bak tersebut terlebih dahulu di bersihkan untuk membuang lumut, teritip yang menempel dan kotoran-kotoran yang ada di bak. Pembersihan di lakukan dengan menyiram air laut ke seluruh bagian bak dan disikat. Kemudian bak diberi desinfektan berupa kaporit dengan dosis 30 ppm, didiamkan selama 15 – 30 menit dan dibilas. Untuk menghilangkan bau dari kaporit, bak di keringkan dan di diamkan selama 24 jam. Bak yang telah dibersihkan diisi air sebanyak 6 m3 dan di aerasikuat untuk menghilangkan pengaruh kaporit. Penyiraman dengan kaporit pada bak pemeliharaan induk maupun bak pemeliharaan larva untuk mempermudan pekerjaan membersihkan dasar bak dari kotoran yang menempel. Setelah bersih, bak diisi air laut dan diaerasi selama 2 hari sebelum digunakan.

 

Pengadaan Induk

Induk kerapu macan berasal dari alam dan hasil budidaya. Jumlah induk kerapu macan yang ada sebanyak 20 ekor dengan berat 6,6 – 9,1 kg dan induk betina sebanyak 8 ekor dengan berat 9,1 – 14,5 kg. Ukuran calon induk untuk kerapu macan yang baik untung pematangan gonad minimal 4-6 kg. Data hasil pengukuran panjang dan berat dapat dilihat pada table di bawah ini :

Contoh Tabel Hasil pengukuran panjang dan berat induk kerapu macan

induk ke- berat (kg) panjang (cm) kelamin
1 7,7 78 Jantan
2 8,3 91 Jantan
3 8,5 78 Jantan
4 6,8 79 Jantan
5 7,6 73 Jantan
6 7,9 84 Jantan
7 8,4 96 Jantan
8 8,7 71 Jantan
9 7,6 85 Jantan
10 9,1 82 Jantan
11 8,5 75 Jantan
12 6,6 69 Jantan
13 9,5 85 Betina
14 12 96 Betina
15 9,2 84 Betina
16 9,8 69 Betina
17 10,7 92 Betina
18 9,1 73 Betina
19 14,5 80 Betina
20 12 75 Betina

Induk kerapu macan yang berasal dari alam dibeli dari pengumpul atau nelayan. Pengangkutan induk menggunakan sistem terbuka dengan menggunakan bak fiber dengan volume 1 m3 dan dilengkapi aerasi. Induk yang berasal dari alam biasanya sudah matang gonad tetapi belum diketahui silsilah genetiknya.

Induk kerapu macan dari hasil pembudidaya mempunyai kualitas yang baik dan silsilah genetiknya dapat kita ketahui tetapi membutuhkan waktu yang cukup lama. Calon induk dari hasil budidaya adalah ikan yang benar-benar sehat, lengkap bagian tubuhnya dan tidak cacat.

Halaman 1 2 3 4 5 6

[nextpage title=”Page Break”]

Pemeliharaan Induk

Pemeliharaan induk kerapu macan dilakukan pada bak terkontrol, induk kerapu macan dipelihara pada bak yang terbuat dari semen dengan panjang 7 meter, lebar 5 meter serta memiliki kedalaman 3 meter yang dilengkapi dengan aerasi, saluran air yang masuk dari sisi yang satu dan saluran pembuangan dari sisi yang berlawanan. Agar induk tetap sehat, dalam wadah pemeliharaan dilakukan sirkulasi air atau penggantian air dengan sistem air mengalir selama 24 jam.

Kepadatan induk sebaiknya tidak lebih dari 8 kg/m3, sehingga berat total induk 149 kg membutuhkan bak dengan volume 19 m3. Bak induk yang dipakai mempunyai volume 56 m3 sehingga kebutuhan bak sarana sudah terpenuhi. Untuk menjaga kesehatan induk di lakukan pencucian bak dua kali sebulan dengan cara bak disiram dengan kaporit 100 ppm untuk membunuh bibit penyakit lalu bak digosok sampai kotorannya hilang dan dicuci sampai bersih. Pakan yang diberikan untuk induk adalah ikan rucah segar dan cumi-cumi dengan dosis 3 % dari berat induk. Pakan diberikan sebanyak satu kali sehari pada pukul 08.00. Frekuensi pemberian pakan satu kali sehari pada pagi hari.

Seleksi Induk

Salah satu kunci keberhasilan dalam usaha pembenihan adalah ketersediaan induk yang bagus. Oleh karena itu perlu dilakuakan seleksi calon induk menurut ukuran serta memenuhi syarat untuk di pijahkan, yaitu harus sehat tubuh tidak cacat induk kerapu yang matang gonad di ketahui dari morfologinya.

Sebelum proses penyeleksian, terlebih dahulu dilakukan pembiusan untuk menghindari induk stress, pembiusan menggunakan Ethyleneglycol monopheyl ether 100 ppm. Obat bius dimasukan ke dalam kotak Styrofoam berukuran 80x40x40 cm3 yang telah di isi air laut setinggi 20 cm. Obat bius yang dimasukan ke dalam bak sebanyak 6,5 ml. Induk di tangkap satu-persatu dan di masukan ke dalam kotak Styrofoam. Kegiatan seleksi di lakukan apabila induk telah terlihat hilang kesadaran yang di tandai tubuhnya akan miring dan jika di pegang tidak meronta.

Induk Betinainduk betina ikan kerapu macan

Secara visual,ukuran tubuhnya lebih besar daripada induk jantan, warna tubuhnya cerah dan pergerakannya lambat. Untuk mengetahui tingkat kematangan gonad dilakukan kanulasi dengan selang kanula dengan diameter 1 mm dimasukan kelubang genital sedalam 4-6 cm kemudian dihisap secara perlahan-lahan. Telur yang di hisap berwarna kekuningan, berbentuk bulat dan telur terpisah satu dengan yang lainnya. Telur kemudian diamati menggunakan mikroskop dan diameter terlur lebih dari 450 μm. Dengan seleksi induk diharapkan induk yang akan dipijahkan benar-benar matang gonad sehingga telur yang dihasilkan berkualitas baik.

Induk Jantaninduk jantan ikan kerapu macan

Untuk mengetahui tingkat kematangan gonad induk jantan diklakukan dengan metode striping secara perlahan-lahan dari perut sampai ujung genitalnya.striping secara perlahan-lahan dengan tujuan menghindari keluarnya sperma berlebihan dan terjadinya kerusakan organ dalamnya. Tingkat kematangan induk jantan ditentukan oleh kekentalan sperma hasil stripping. Apabila sperma yang keluar berwarna putih susu maka induk siap pijah, induk jantan siap dipijahkan jika memiliki sperma dengan ciri berwarna putih susu dan kental.

Pematangan Gonad

Pematangan gonad menggunakan kombinasi pakan ikan rucah dan cumi-cumi setiap satu kali sehari. Jenis pakan ikan rucah yang digunakan adalah ikan lemuru. Kualitas gonad yang dihasilkan induk dipengaruhi oleh pakan yang diberikan sehingga kualitas dan kuantitas pakan yang diberikan pada saat pematangan gonad harus baik. Induk yang di beri pakan cumi dapat menghasilakan telur dengan derajat penetasan mancapai 90 %.

Selain ikan rucah dan cumi-cumi juga diberikan multivitamin setiap dua kali seminggu dan dengan dosis dua kapsul/ekor pada hari senin dan jumat. Jenis multivitamin yang diberikan untuk induk kerapu selama pemeliharaan adalah :

  1. Vitamin E (Natur E), berfungsi untuk menpercepat proses pematangan gonad untuk pemijahan selanjutnya dan meningkatkan kualitas telur yang dihasilkan dari proses pemijahanvitamin C
  2. Vitamin premium C mengandung vitamin C dan asam lemak esensial. Vitamin ini berfungsi untuk menambah nafsu makan dan menambah daya tahan tubuh ikan terhadap serangan penyakit serta untuk meningkatkan kualitas telurvitamin E

Contoh Tabel Manajemen pemberian pakan dan multivitamin induk kerapu

No Hari Jenis Pakan Vitamin Yang Diberikan Keterangan
1 senin ikan rucah Vitamin E sebanyak 2 kapsul/ekor
2 selasa cumi-cumi sebanyak 3 % dari berat induk
3 rabu ikan rucah sebanyak 2 kapsul/ekor
4 kamis cumi-cumi sebanyak 3 % dari berat induk
5 jumat ikan rucah Vitamin E sebanyak 2 kapsul/ekor
6 sabtu cumi-cumi sebanyak 3 % dari berat induk
7 minggu ikan rucah sebanyak 3 % dari berat induk

Pemberian vitamin dilakukan dengan cara menyisipkan vitamin pada daging cumi-cumi yang berupa potongan-potongan kecil. Potongan cumi-cumi yang berisi vitamin tidak langsung di berikan kepada induk, tetapi terlebih dahulu di beri potongan cumi yang tidak berisi vitamin untuk melihat nafsu makanya terlebih dahulu. Setelah induk terlihat mulai makan, potongan cumi-cumi yang berisi kapsul vitamin E dan C diberikan. Pemberian vitamin dilakukan selama dalam pemeliharaan hingga induk selesai memijah. Setelah proses pemijahan pemberian vitamin di hentikan  dan seminggu kemudian baru di beri lagi.

Pemijahan

Proses pemijahan terjadi pada akhir dan awal menurut penanggalan hijriah (bulan gelap), yaitu pada tanggal 25 sampai 5. Induk memijah pada malam hari  sekitar pukul 23.00 – 02.00 WIB. Hal ini disebabkan karena di habitat aslinya ikan kerapu melakukan pemijahan pada malam hari yakni pada pukul 20.00 – 0.3.00 WIB dimana kondisi perairan tenang dan gelap. Ikan kerapu dikenal memijah secara berkelompok (group matting) pada malam hari, dimana pada siang hari terjadi surut rendah. Metode pemijahan dengan manipulasi lingkungan teknik penjemuran. Metode manipulasi lingkungan dilakukan untuk menaik turunkan suhu dan salinitas serta dilakukan pemasukan air baru. Pemijahan dilakukan dengan cara mengumpulkan induk hasil seleksi yang siap memijah pada bak pemijahan. Penjemuran dilakukan dua hari menjelang bulan gelap dengan cara menurunkan permukaan air sampai kedalaman 30 cm dari dasar.

Penjemuran dimulai pada pagi hari pada pukul 09.00 setelah pemberian pakan yang akan menaikan suhu dan salinitas air. Air pemeliharaan dinaikan seperti semula dengan penambahan air baru pada sore hari pukul 16.00, yang akan menurunkan kembali suhu dan salinitas air. penambahan air baru dilakukan untuk meransang pematangan inti telur kemudian meransang pemijahan.

Induk yang akan memijah ditandai dengan perut yang terlihat membuncit untuk induk  betina, sedangkan untuk induk jantan ditandai dengan gaya berenang yang aktif dan sesekali berenang ke permukaan. Pada bulan januari induk betina berjumlah 3 ekor yang bertelur sedangkan pada bulan februari tidak ada yang bertelur jumlah rata-rata telur yang dihasilkan oleh induk betina pada bulan januari adalah 2000.000 butir dan pada bulan februari adalah 0 butir.

Jumlah telur tersebut dihasilkan dari 3 ekor induk. 5 ekor induk lain yang tidak memijah diduga karena mengalami kekurangan dalam mendapatkan pakan sehingga nutrisi yang didapatkan oleh induk tersebut kurang menunjang untuk melakukan pemijahan.

Halaman 1 2 3 4 5 6

[nextpage title=”page break”]

Pemanenan Telur

Pemanenan telur dilakukan pada pagi hari pukul 08.00 dimana pada saat itu telur lebih kuat apabila terkena goncangan karena telah berada pada tahap fase gastrula. Pemanenan telur dilakukan dengan cara resirkulasi air dimana telur terbawa air yang keluar menuju bak pemanenan telur melalui saluran pemanenan yang berada disisi bak. Telur yang terbawa aliran air ditampung dalam egg collector yang ada didalam bak pemanenan telur. Egg collector terbuat dari screen net dengan mesh size 150 – 200 μm. Telur yang sudah terkumpul di egg collector dipanen menggunakan gayung dan ditampung didalam ember yang kemudian telur dipindahkan ke dalam akuarium dan diberi aerasi.

Seleksi Telur

Telur yang sudah dipanen dari bak pemanenan telur dipindah ke akuarium volume 100 liter untuk diseleksi. Seleksi telur dilakukan dengan tujuan untuk memisahkan telur berkualitas bagus dan jelek atau yang terbuahi dan yang tidak terbuahi. Seleksi telur dilakukan pada akuarium dengan cara mematikan aerasi. Telur yang bagus akan terapung dipermukaan atau melayang pada badan air yang disebabkan oleh masa jenis telur lebih kecil dari pada air, warna telur transparan, berbentuk bulat. Berat jenis telur lebih kecil disebabkan oleh minyak atau lemak yang berkembang.

Telur yang jelek akan tenggelam di dasar akuarium berwarna putih susu (keruh). Telur yang jelek dibuang dengan cara disiphon secara perlahan-lahan dengan menggunakan selang 3/16 inchi dan telur yang bagus dipindahkan menggunakan gayung.

Telur yang baik akan terapung dibagian permukaan dengan warna transparan berbentuk bulat,kuning telur berada di tengah, berukuran 850-950 μm, sebaliknya telur yang jelek berada di dasar, berwarna putih susu.

Perhitungan Telur

Perhitungan telur di lakukan setelah telur diseleksi. Telur yang telah diseleksi dipindahkan kedalam akuarium baru kemudian dilaksanakan perhitungan telur. Perhitungan telur dengan metoda sampling yang dilakukan secara acak dengan syarat kepadatan merata. Telur yang sudah dihitung dipindah ke bak larva dengan kepadatan 10 butir/liter.

Contoh Tabel Jumlah telur yang dihasilkan

Tanggal jumlah telur
22 januari 750.000
23 januari 4.200.000
24 januari 1.050.000
Jumlah 6.000.000

Penetasan Telur

Penetasan telur dilakukan pada akuarium penetasan telur dan diberikan aerasi agar telur tidak mengendap kebawah. Di akuarium penetasan larva telur menetas setelah 19-20 jam sejak telur terbuahi dengan suhu 28-30 0C. Perkembangan embrio telur sejak pembuahan sampai penetasan memerlukan waktu 19-20 jam pada suhu 27-30 0C, dimana pembelahan sel pertama kali terjadi 40 menit setelah pembuahan.

Contoh Tabel Perkembangan Embrional Kerapu

FASFASE WAKTU PERKEMBANGAN

(jam)

Pembuahan telur

1 sel

2 sel

4 sel

8 sel

16 sel

32 sel

64 sel (multi sel)

Morula

Blastula

Grastula

Embryonic shield cover ½ yolk

Embryonic shield cover ¾ yolk

Neurola

Embryonic body with 6 myomere

Embryonic body with ½ yolk

Embryonic body with optivlobe, 16 myomere

Auditory vesicle appeared

Pembentukan lensa optic dan otolit

Pergerakan pertama

Denyut jantung

Menetas

00.00

00.40

01.00

01.00

01.15

01.30

01.45

02.00

02.25

02.50

03.30

05.45

07.00

08.00

08.10

10..30

11.30

12.30

14.30

14.55

15.55

17.05

19.05

Perkembangan embrio di mulai dari 1 sel, 2 sel, 4 sel, 8 sel, 16 sel, 32 sel, 128 sel, atau banyak sel kemudian morula, blastula, gastrula, yang akhirnya menjadi embrio yang memiliki bola mata dan tunas ekor. Telur langsung ditebar dalam bak pemeliharaan larva. Kepadatan telur adalah 10 butir/liter.

Contoh Tabel hasil penghitungan derajat penetasan telur

Tanggal Jumlah Telur Telur Dibuahi Menetas HR (%)
22/01/2012 750.000 700.000 680.000 90,6
23/01/2012 4.200.000 4.130.000 4.130.000 95,4
24/01/2012 1.050.000 950.000 920.000 87,6
Jumlah 6.000.000 5.780.000 5.610.000
Rata-rata 2.000.000 1.926.667 1.870.000 91,2

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa pada bulan maret derajat penetasan telur (HR) rata-rata menghasilkan 91,2 %, pada bulan januari nilai drajat penetasan telur tidak kurang dari 70 %. Hal ini disebabkan pada bulan januari kisaran salinitas lebih tinggi yaitu rata-rata 31 ppt.

Telur ikan kerapu macan akan menetas dengan baik pada kisaran salinitas 32-34 ppt pada suhu 28-30 0C. jumlah derajat penetasan ini dikatakan sudah memenuhi syarat untuk dipakai dalam kegiatan pembenihan kerapu macan.

Persiapan Bak Larva

Bak pemeliharaan larva berbentuk persegi  yang terdapat didalam ruangan yang di tutup terpal. Bak terbuat dari beton dengan volume 10 m3 dengan dinding dalam bak dicat biru. Pada sudut bak dibuat melengkung agar tidak ada titik mati. Untk mencukupi kebutuhan oksigen dalam bak pemeliharaan larva dilengkapi dengan aerasi juga saluran pemasukan dan pengeluaran. Penggunaan bak larva sebaiknya berukuran sedang yaitu sekitar 5-10 m3, apabila bak yang digunakan terlalu kecil akan mudah terjadi fluktuasi suhu sedang bak yang terlalu besar akan sulit dalam pengaturan aerasi, pencahayaan dan pengelolaan air.

Sebelum digunakan terlebih dahulu bak dan peralatan yang dipakai seperti selang aerasi, batu aerasi, timah pemberat dan peralatan lainnya disiram dengan kaporit 100 ppm kemudian dicuci sampai bersih. Hal ini dilakukan untuk mensterilkan semua peralatan supaya bebas dari penyakit seperti bakteri dan jamur.

Air laut yang digunakan berasal dari tendon air laut yang sudah ditreatment kemudian disalurkan keunit pembenihan menggunakan gravitasi. Sebelum masuk ke bak pemeliharaan larva, air disaring menggunakan filterbag supaya air lebi bersih. Setelah air pemeliharaan sudah siap bak pemeliharaan larva ditutup dengan terpal supaya tidak ada kotoran yang masuk dan mengurangi perubahan kualitas air pada bak pemeliharaan larva. Pemeliharaan larva dilakukan sampai umur 35 hari karena larva telah melewati masa kritis.

Halaman 1 2 3 4 5 6

[nextpage title=”page break”]

Pemberian Pakan

Selama pemeliharaan larva diberikan pakan alami dan pakan buatan. Pakan alami yang digunakan adalah fitoplankton jenis chlorella, zooplankton jenis brachionus plicatilis/rotifer dan naupli artemia.

                                                                    pakan buatan (love larva no 2,3,)
                                    artemia (1 ind/ml s/d 3 ind/ml)
                rotiver (6 ind/ml s/d 15 ind/ml)
chlorella sp (12.000.000 sel/ml)
1               3            5           10                   15                  20             25              30
                                   umur larva(hari)

Pemberian pakan chlorellakultur chlorella

Pupuk yang di gunakan adalah urea sebanyak 40 mg/l, Za 80 mg/l, dan TSP 20 mg/l. Bak diisi terlebih dahulu dengan air laut sebanyak 20 % dari volume bak inokulan chlorella sebanyak 10 % dari volume bak. Terlebih dahulu pupuk dicampur menjadi satu dan dilarutkan dalam air. lalu disebarkan merata pupuk dicampur menjadi satu dan dilarutkan kedalam air. lalu disebarkan merata pada permukaan bak.

Dua hari kemudian media sudah terlihat agak kehijauan yang menandakan fitoplankton tersebut mulai tumbuh. Fitoplankton berumur 4-5 hari, sudah dapat di berikan pada rotifer dan larva yaitu pada saat fitoplankton mencapai kepadatan 12 juta sel/ml. pemupukan ulang dilakukan setelah fitoplankton berumur 8 hari atau setelah warna air medi telihat agak kehijauan, menunjukan fitoplankton sudah mulai kekurangan nutrisi atau layu membutuhkan nutrisi baru yaitu pupuk.

Pemberian pakan rotifer (brachionus plicatilis)Kultur Rotifer

Pemberian rotifer ukuran 100-200 μm dimulai pada saat larva berumur D-3 sampai D-20. Bak kultur rotifer diluar ruangan yang bertujuan agar chlorella sebagai pakan rotifer dapat menyerap nutrisi dari sinar matahari. Selain itu juga pertumbuhan rotifer lebih optimal apabila terkena sinar matahari secara langsung.

Terlebih dahulu bak diisi dengan air laut dan chlorella sebanyak volume yang diinginkan. Biasanya sekitar ¾ dari volume total bak. Selang dua hari kemudian inokulan rotifer dimasukan dengan kepadatan 15 individu/ml. Setelah dimasukan inokulan sehari kemudian ditambahkan chlorella setinggi kira-kira 10 cm. chlorella berfungsi sebagai pakan rotifer sehingga penambahannya dilakukan setiap hari. Rotifer yang berumur 5 hari dapat diberikan kepada larva. Setelah mencapai umur tersebut maka rotifer dipanen setiap hari untuk suplai pakan larva serta untuk mengurangi kepadatan pada bak kultur.

Artemiakultur artemia

Penyediaan artemia pada pembenihan kerapu macan diperoleh dengan melakukan penetasan kista artemia pada bak kerucut dengan volume air 70 liter. Kegiatan penetasan kista artemia dilakukan pada saat larva sudah memasuki umur 10 hari dimana pada umur 12 hari larva sudah mulai diberi pakan naupli artemia. Pada awal penetasan, kista artemia sebanyak 50 gr dan terus bertambah seiring bertambahnya umur dan ukuran larva.

Kista akan menetas menjadi naupli artemia setelah 24 jam. Naupli artemia dipanen dengan cara membuka selang bagian bawah bak disaring dengan menggunakan planktonnet. Setelah itu ditampung dalam ember yang di perkaya dengan vitamin C dan diaerasi. Hal ini dilakukan agar apabila ada kista yang belum menetas dapat menetas pada ember. Penampungan dilakukan selama kurang lebih 1 jam. Setelah itu artemia siap di berikan kepada larva.

Pakan Buatan

Pakan buatan mulai diberikan setelah larva berumur D-15 dengan cara ditebar merata pada permukaan bak pemeliharaan larva dengan frekuensi pemberian pakan setiap satu jam sekali atau sampai pakan yang diberikan benar-benar habis. Ukuran pakan yang diberikan sesuai dengan umur ikan dan bukaan mulutnya. Pemberian pakan buatan dimaksudkan untuk mencegah kekurangan nutrisi dan gizi yang tidak terdapat pada pakan alami. Dengan bertambahnya umur larva maka ukuran pakan yang diberikan semakin besar dan jumlahnya semakin bertambah.

Contoh Tabel Komposisi nutrisi dan karateristik

No Bentuk Ukuran partikel (mm) Komposisi
Protein Lemak Serat Abu
1 Granule < 0,20 < 48 < 10 < 2 < 20
2 Granule 0,20 – 0,31 < 48 < 10 < 2 < 20
3 Granule 0,31 – 0,48 < 48 < 10 < 2 < 20
4 Granule 0,48 – 0,0,63 < 52 < 12 < 2 < 20
5 Granule 0,63 – 1.06 < 52 < 12 < 2 < 20
6 Soft Pellet 1,10 – 1,30 < 54 < 9 < 3 < 17
7 Soft Pellet 1,50 – 1,90 < 54 < 9 < 3 < 17

Contoh Tabel Jadwal pemberian pakan larva

Jenis pakan

Umur larva

Minyak ikan  Fitoplankton Zooplankton pelet artemia udang jambret
D1 * * *
D2 * * *
D3 * * * *
D4 * * * *
D5 * * * *
D6 * * *
D7 * * *
D8 * * *
D9 * * *
D10 * * *
D11 * * *
D12 * * * *
D13 * * * *
D14 * * * *
D15 * * * *
D16 * * * *
D17 * * * *
D18 * * * *
D19 * * * *
D20 * * * *
D21 * *
D22 * *
D23 * *
D24 * *
D25 * * *
D26 * * *
D27 * * *
D28 * * *
D29 * * *
D30 * * *

Pemberian pakan buatan pada larva dapat meningkatkan vitalitas benih karena komposisi pakan buatan sudah diatur kandungan nutriennya.

Halaman 1 2 3 4 5 6

[nextpage title=”page break”]

Perkembangan Larva

Larva yang baru menetas berukuran 0,2 cm. Pada saat ini larva masih memiliki kuning telur sehingga belum memerlukan makanan. Pada umur ini bak pemeliharaan diberikan minyak ikan dan chlorella. Minyak ikan diberikan dengan tujuan agar larva yang baru menetas ini tidak dapat berenang sampai ke permukaan karena tertutup oleh minyak ikan tersebut. Seperti diketahui bahwa larva yang berumur kurang dari 12 hari apabila berenang ke permukaan, maka akan sulit untuk kembali ke badan air. Hal inilah yang sering menjadi penyebab kematian masal pada kerapu macan. Selain itu, minyak ikan juga berfungsi untuk mengurangi lendir yang dihasilkan oleh larva yang baru menetas. Tekanan permukaan dapat mengakibatkan kematian massal pada larva dan minyak ikan terbukti dapat mengurangi tekanan permukaan air serta memudahkan larva yang terjebak di permukaan air kembali berenang ke badan air. Sedang pemberian chlorella bertujuan untuk menjaga keseimbangan kualitas air dan pakan zooplankton dalam bak pemeliharaan

Contoh Tabel Tahap Perkembangan Larva

Hari ke Tahap Perkembangan Panjang (mm)
D1 Larva baru menetas transparan, melayang dan tidak aktif. 1,89 – 2,11
D3 Timbul bintik hitam di kepala dan pangkal perut. 2,14 – 2,44
D7 Timbul calon sirip punggung yang keras dan panjang. 7,98 – 8,96
D9 Timbul calon sirip punggung yang keras dan panjang. 15,88 – 17,24
D25 Sebagian duri mengalami reformasi dan patah, pada bagian ujung tumbuh sirip awal lunak 20,31 – 22,64
D30 Sebagian larva yang pertumbuhannya capat telah berubah menjadi burayak (juvenil), bentuk dan warnanya telah menyerupai ikan dewasa. 22,40 – 23,42

Pada hari ke 7 sirip punggung dan sirip dada mulai tumbuh. Panjang larva telah mencapai 0,3-0,4 cm. Pada umur ini bak pemeliharaan mulai dilakukan penyiponan yang bertujuan agar kotoran-kotoran hasil penetasan telur dan sisa-sisa pakan  yang berada di dasar bak dapat dibersihkan. Pada umur ini tingkat mortalitas larva tinggi. Hal ini merupakan akibat dari pertumbuhan sirip dada dn sirip punggung tersebut. Namun tingkat pertumbuhan relatif cepat karena larva sudah mulai terbiasa memangsa pakan yang diberikan.

Pada hari ke-13 larva mulai diberikan pakan naupli artemia. Pemberian artemia ini terbukti dapat mempercepat laju pertambahan panjang larva dari hari ke 13-25. Nauplii artemia memiliki kandungan nutrisi protein sebanyak 52,50% yang mempunyai perana penting dalam mempertahankan fungsi jaringan secara normal, untuk perawatan jaringan tubuh, mengganti sel-sel yang rusak dan pembentukan sel-sel baru.

Kematian larva tertinggi terjadi pada umur 12-16 hari dimana pada saat itu larva mulai memangsa pakan artemia namun tidak dilakukan penyiponan sehingga menimbulkan kekeruhan pada dasar bak. Selain itu kematian juga terjadi pada hari ke-5 sampai panen yang di sebabkan oleh terjadinya point of no retrun yaitu suatu keadaan dimana hanya 50% larva yang mampu makan pada kondisi dimana terdapat jumlah pakan yang optimal sedang sisanya tidak lagi mampu makan. Point of no retrun dapat terjadi karena kesalahan menetukan jadwal pakan atau keterlambatan pemberian pakan serta rendahnya mutu pakan. Pada setiap siklus kedua juga sering terjadi penurunan tegangan listrik pada malam hari akibat hujan sehingga mengakibatkan aliran listrik menjadi mati. Hal ini menimbulkan kematian pada larva akibat kekurangan oksigen karena matinya aerasi.

Pengelolaan Kualitas Air

Pengelolaan kualitas air bak pemeliharaan larva dilakukan dengan cara pergantian air dan penyiponan bak larva. Penyiponan bak larva dilakukan setelah pemberian pakan, dilakukan saat larva berumur D-11 dimana larva sudah naik dipermukaan air, penyiponan dilakukan 1-2 kali sehari tergantung kondisi dasar bak. Pergantian air dilakukan pada D-11 sebanyak 10-20 % sampai D-20. Pergantian sebesar 30-50 % pada D-21 sampai D-35 dan pergantian sebanyak 50-80 % dari D-21 sampai D-35. Pengelolaan kualitas air yang baik dapat memberikan pertumbuhan larva yang cepat dengan tingkat mortalitas yang rendah.

Dari hasil pengukuran kualitas air diperoleh kisaran suhu, salinitas, pH dan oksigen terlarut menunjukan kisaran yang relaif sama diantara dua bak. Suhu selama pengamatan berkisar 28-29 0C, salinitas 30-33 ppt, pH 7,2-8,0 dan oksigen terlarut 5,0-5,5 ppm. Untuk lebih jelasnya kisaran kualitas air selama pemeliharaan larva dapat dilihat pada tabel 13. Kondisi ini disebabkan karena wadah pemeliharaan berada dalam lingkungan yang sama, begitu juga dengan pasokan air lautnya. Kisaran air ini di kategorikan masih layak bagi kehidupan larva, suhu optimal untuk larva kerapu adalah 30-35 ppt, standar pH untuk pembenihan kerapu adalah 7-8 dan kandungan oksigen terlarut untuk pembenihan kerapu adalah > 5.

Contoh Tabel kisaran kualitas air selama pemeliharaan larva

Bak Parameter kualitas air yang diamati
Suhu (0C) Salinitas (%) pH DO (mg/l)
1 28-29 30-32 7,8-8,0 5,0-5,5
2 28-29 32-33 7,2-7,7 5,2-5,5

Penyakit Dan  Pencegahannya

Penyakit yang menyerang selama pemeliharaan larva adalah penyakit cacing pipih. Penyakit ini menyerang pada bagian tubuh larva, menyebabkan larva berenang di permukaan dan nafsu makan berkurang. Penanggulangan penyakit ini dilakukan dengan cara pergantian air bak larva sebanyak mungkin dan pencegahan pada pemeliharaan larva meliputi :

  1. Mensucihamakan semua sarana dan prasarana yang di gunakan dalam kegiatan pembenihan
  2. Telur berasal dari induk yang sehat dan pengurangan terhadap padat penebaran larva.
  3. Pemberian desinfektan terhadap telur yang akan di tebar yaitu dengan melakukan perendaman dengan larutan iodin
  4. Tidak saling menukar peralatan kerja dan mensterilisasi air media pemeliharaan.

Pengobatan sebaiknya merupakan usaha akhir jika tindakan pencegahan tidak memberikan hasil yang memuaskan. Efek samping dari pemberian obat-obatan kadang malah menimbulkan masalah  seperti terjadinya resistensi terhadap ikan dan kemungkinan meninggalkan residu yang tidak di harapkan.

Halaman 1 2 3 4 5 6

[nextpage title=”next page”]

Pemanenan Dan Grading

Pemanenan larva dilakukan pada umur 25 hari karena telah melampaui masa kritis dan morfologinya telah sempurna, panjang larva telah mencapai ukuran 16-18 mm. pemanenan larva dilakukan secepat mungkin dan sangat hati-hati untuk menekan seminimal mungkin hal-hal yang menyebabkan kesetresan larva, karena sifat larva yang sangat sensitive terhadap goncangan. Pemanenan dilakukan pada pagi hari, yang sebelumnya larva sudah dipuasakan. Pemanenan dilakukan setelah larva menjadi benih yang sudah siap untuk dipindahkan ke bak-bak pendederan.sebelum dilakukan pemanena ikan dipuasakan terlebih dahulu atau dilakukan pemberokan.

Pemanenan larva dilakukan dengan cara memasukan tudung saji secara perlahan –lahan di dekat benih yang bergerombol, sehingga dengan sendirinya benih akan masuk bersamaan air kedalam tudung saji tersebut. Apabila kepadatan benih tinggal sedikit, maka pemanenan larva dilakukan dengan cara menurunkan air pemeliharaan sampai ± 30 cm, kemudian larva ditangkap dengan gayung secara hati-hati dan dikumpulkan pada ember yang diberi aerasi setelah itu dipindahkan ke bak pendederan,

Pada saat pemeliharaan larva kebak pendederan dilakukan grading untuk penyeragaman ukuran larva pada bak pendederan. Grading dilakukan untuk mengurangi kanibal, mencegah terjadinya persaingan memperoleh pakan. Grading adalah memisahkan ukuran ikan besar dari ikan yang kecil, sehingga ukuran ikan relatif lebih seragam sehingga dapat menekan kematian ikan karena kanibal.

Di bak pendederan larva dipelihara selama 20 hari sampai menjadi benih umur 60 hari. Selama pemeliharaan larva sampai umur 25 hari jumlah larva yang diperoleh 8000 ekor, pada bak 1 jumlah tebar awal sebesar 8000 ekor setelah berumur 25 hari menjadi 4500 ekor sehingga didapatkan SR sebesar 56,25 % lebih rendah dibanding pada bak 2 padat tebar awal sebesar 8000 kemudian berkurang menjadi 5000 ekor sehingga memiliki SR sebesar 62,5 %, hal ini dikarenakan tingkat kanibalisme pada bak 1 lebih tinggi dibandingkan tingkat kanibalisme pada bak 2 mengakibatkan nilai SR lebih rendah dibandingkan bak 2.

Contoh Tabel Jumlah larva yang dihasilkan sampai umur 25 hari.

 

 

Jumlah tebar awal (ekor) Jumlah akhir

(ekor)

SR

(%)

Bak 1 8000 4500 56,25 %
Bak 2 8000 5000 62,5 %

Grading bertujuan untuk menyeragamkan ukuran benih, mengurangi sifat kanibalisme dan mengurangi persaingan dalam mendapat makanan. Grading dilakukan setiap 3-4 hari sekali atau jika ukuran benih tidak seragam. Grading dilakukan dengan alat bantu berupa tudung saji, gayung dan ember untuk menangkap benih dan tempat grading. Pemilihan benih dilakukan satu persatu sesuai dengan ukuran benih apabila telah seragam benih dimasukkan lagi ke bak pemeliharaan. Grading atau pemilahan ukuran adalah salah satu kegiatan dalam pendederan untuk menyeleksi sekaligus memilah-milah benih sesuai dengan ukurannya

Pemanenan benih dilakukan pada umur 60 hari dengan panjang benih berkisar 47-48 mm atau sesuai permintaan pembeli. Sebelum panen, benih dipuasakan terlebih dahulu satu hari satu malam. Pemuasaan dalam jangka waktu tertentu, bertujuan menurunkan proses pencernaran, baik yang bersifat mekanik maupun kimiawi, yang mengubah makanan menjadi bahan yang mudah diserapdan diedarkan keseluruh tubuh melalui darah.

Pada proses pencernaan akan dibutuhkan energy yang secara langsung berkaitan dengan kebutuhan oksigen, dimana oksigen diperlukan pada proses oksidasi untuk memproduksi bioenergi dari penguraian bahan makanan sehingga dengan tiadanya bahan yang harus dicerna, secara tidak langsung juga akan menurunkan kebutuhan oksigen. Ketiadaan bahan untuk dicerna juga akan meniadakan sisa hasil pencernaan yang berupa kotoran, kencing dan energy panas yang berpotensi meningkatkan kekeruhan, konsentrasi ammonia dan kenaikan suhu pada media pengangkutan.

Ammonia yang dihasilkan dari sisa pencemaran dan metabolisme dilaporkan bersifat racun pada tingkat 0,6 ppm dalam media air. semakin tinggi konsentrasinya didalam media air, mengakibatkan ammonia darah meninggi yang berdampak pada kegiatan metabolisme. Pemuasaan dan penurunan suhu media akan mengurangi pengeluaran ammonia.

Contoh Tabel Jumlah benih yang dihasilakn sampai umur 60 hari

Bak pemeliharaan Jumlah tebar awal

(ekor)

Jumlah akhir

(ekor)

SR

(%)

Bak 1 2.000 1400 70 %
Bak 2 2.000 1125 56 %
Bak 3 2.000 1200 60 %
Bak 4 2.000 1375 68 %

Pada bak 1 jumlah tebar sebesar 2000 ekor dan selama 60 hari jumlah benih yang tersisa sebesar 1400 ekor, sehingga SR mencapai 70 % bak 1 memiliki nilai SR yang paling tinggi dari bak yang lainnya, dikarenakan penyeragaman benih yang sudah baik, sehingga mengurangi resiko kanibalisme, sedangkan bak 2 memiliki nilai SR yang rendah yaitu 56 % dari keempat, hal ini terjadi karena pada bak 2 kematiannya lebih tinggi dibandingkan dengan bak lainnya. Hal ini di akibatkan dari sifat kanibalisme

Persiapan Bak Benih

Bak pemeliharaan benih berbentuk empat persegi panjang yang terletak di ruangan semi tertutup. Bak terbuat dari semen dengan volume 103 dan dinding bak dicat biru . pada sudut bak dibuat melengkung agar tidak ada titik mati. Untuk mencukupi kebutuhan oksigen dalam bak pemeliharaan larva dilengkapi dengan aerasi, saluran pemasukan dan saluran pengeluaran. Bak pendederan dapat terbuat dari bak semen atau bak fiberglass yang tahan terhadap benturan dan beban atau tekanan air sesuai dengan volume yang ditentukan.

Sebelum digunakan terlebih dahulu bak dan peralatan yang dipakai seperti selang aerasi, batu aerasi, timah pemberat dan peralatan lainnya disiram dengan kaporit 100 ppm kemudian dicuci sampai bersih. Hal ini dilakukan untuk mensterilkan semua peralatan supaya bebas dari penyakit seperti bakteri dan jamur.

Pemberian Pakan

Pemberian pakan benih menggunakan pakan hidup berupa udang jambret segar dan pakan buatan merk kargil. Pemberian pakan menggunakan udang jambret dari D-25 sampai D-30. Pakan udang jambret diberikan pada pukul 07.00, 11.00, 13.00 dan 17.00 dengan sekali pemberian kantong setiap bak. Dari umur 31 sampai 60 hari pada pukul 07.00, 11.00, 13.00dan 17.00 sampai ikan kenyang. Kebutuhan nutrisi untuk benih kerapu harus memiliki kadar protein yang tinggi karena tergolong hewan karnivora. Jenis pakan yang umum digunakan dalam kegiatan pendederan antara lain pakan buatan dan ikan segar.

Pengelolaan Kualitas Air

Untuk menjaga kualitas air pada bak pemeliharaan benih tetap baik yaitu dengan cara pergantian setiap hari sebanyak 50-80 %. Penyiponan dasar bak dilakukan 1-2 kali sehari setelah pemberian pakan dan pembersihan bak apabila sudah kotor atau ditumbuhi lumut, dengan demikian kualitas air dapat dipertahankan dengan baik. Selain itu pada bak pendederan dilakukan sirkulasi air selama 24 jam nonstop. Pada masa pendederan benih memerlukan pergantian air mengalir secara terus menerus selama 24 jam.

Selama pemeliharaan benih pengukuran kualitas air menunjukan kisaran yang ideal untuk pembenihan kerapu. Selama praktek kisaran suhu pada bak pemeliharaan benih yaitu 29-30 0C. Suhu optimal untuk pembenihan kerapu berkisar antara 25-35 0C. kisaran salinitas selama pemeliharaan benih yaitu 32-33 ppt, salinitas yang ideal untuk pemeliharaan kerapu macan adalah 30-35 ppt. kisaran pH selama pemeliharaan benih yaitu 7,2-7,7. Standar pH untuk pembenihan kerapu adalah 7-8. Kisaran oksigen terlarut selama pemeliharaan benih yaitu 5,4-5,6 ppm, Oksigen terlarut untuk pembenihan kerapu macan > 5 ppm.

Contoh Tabel Kisaran kualitas air selama pemeliharaan benih

Bak Parameter kualitas air yang diamati
Suhu (0C) Salinitas (‰) pH DO (mg/l)
1 29-30 32-33 7,2-7,7 5,4-5,6
2 29-30 32-33 7,2-7,7 5,4-5,6
3 29-30 32-33 7,2-7,7 5,4-5,6
4 29-30 32-33 7,2-7,7 5,4-5,6

Penyakit Dan Pencegahannya

Selama pemeliharaan benih dan penyakit yang sering menyerang adalah kutu ikan. Ikan yang terserang penyakit ini berenang lambat dan tidak teratur, nafsu makan menurun, terdapat luka pada bagian tubuh ikan dan sering menggesek-gesekan tubuhnya pada dinding bak. Pencegahan penyakit ini dengan cara memisahkan ikan yang terserang penyakit agar tidak menular yang lain kemudian dilakukan perendaman dengan air tawar atau perendaman methlene blue 10 ppm selama 3 menit dan acriplavin 10 ppm selama 5 menit. Pencegahan yang dilakukan untuk menghindari serangan parasit ini adalah dengan memisahkan ikan yang terserang dari ikan sehat agar tidak tertulari. Sedikitnya dua minggu sekali ikan direndam dalam air tawar selama 10-15 menit.

 

Baca juga artikel tentang :

 

Halaman 1 2 3 4 5 6

Teknik dan Cara Pembenihan Ikan Kerapu Macan Pada Bak Beton
5 (100%) 2 votes