Cara Budidaya Ikan Lele di Kolam Tanah Agar Cepat Panen

Diposting pada

Cara Budidaya Ikan Lele – atau cara ternak ikan lele merupakan salah satu jenis ikan sungai yang memiliki prospek peluang usaha yang cukup cerah dan sangat potensial untuk di kembangkan di Indonesia. Dengan memiliki ciri khas tubuh yang memanjang, licin dan tidak bersisik, mempunyai 4 sungut, bentuk kepala menggepeng, mempunyai patil dan duri yang keras dan dapat digunakan untuk mempertahankan diri dan kadang-kadang dapat di gunakan untuk berjalan di permukaan tanah/pematang.

Di atas bagian rongga insang terdapat alat pernapasan tambahan  yaitu labirin. Ikan lele merupakan ikan konsumsi dengan harga yang sangat terjangkau untuk kalangan bawah. Karena memiliki rasa daging yang gurih dan lezat. Menurut penelitian ikan lele memiliki kandungan gizi 15% – 18% lemak, 5%  – 10% vitamin, 1,2% mineral dan dagingnya yang mengandung kadar gizi yang cukup tinggi.


Cara Budidaya Ikan Lele di Kolam Tanah

Ikan lele dapat dibudidayakan baik di kolam tanah, kolam terpal, kolam beton maupun dalam bak fiber. Keberhasilan budidaya yang didukung oleh kegiatan pembenihan yang dapat menghasilkan telur dan kualitasnya juga baik, guna meningkatkan produksi benih lele yang siap tebar.


Sarana

Didalam budidaya ikan lele memiliki sarana pokok dan sarana pendukung, berikut penjelasan tentang sarana pokok dan sarana pendukung.


Sarana Pokok

Sarana pokok merupakan sarana yang paling utama dalam budidaya ikan lele, jika tidak ada sarana pokok maka budidaya ikan lele tidak dapat dilakukan. Berikut adalah sarana pokok dalam budidaya ikan lele di kolam tanah:

  • Ikan lele (paling pokok)

Ikan lele merupakan biota air yang akan dibudidayakan, karena itu ikan lele harus dijaga dan dirawat dengan baik, jika tidak dirawat dan dijaga dengan baik maka budidaya ikan lele bisa gagal.


  • Kolam Tanah

Kolam tanah ini digunakan sebagai wadah untuk budidaya ikan lele.


  • Air

Sebagai media hidup dari ikan lele.


  • Pakan/Pelet

Pakan/Pelet digunakan sebagai pakan untuk ikan lele agar pertumbuhan ikan lele melaju dengan pesat.


Sarana Pendukung

Sarana pendukung merupakan sara penunjang dari sarana pokok, berikut adalah contoh dari sarana pendukung dalam budidaya ikan lele.

  • Mesin Diesel

Digunakan sebagai alat untuk pemasukan dan pengeluaran air di dalam kolam.


  • Selang diesel

Digunakan sebagai alat untuk menyaluran air dari mesin diesel.


  • Pipa Paralon

Digunakan Sebagai alat pengeluaran air jika keadaan air di kolam terlalu penuh karena hujan atau air kolam yang keluar dari batas pematang dan dapat menyebabkan kerugian pada budidaya ikan lele, dan fungsinya agar air kolam tidak terlalu penuh.


  • Ember Plastik

Digunakan sebagai alat untuk pengangkutan ikan ketika panen, melakukan sortir, melakukan tebar benih, dan sebagai alat untuk menangkut pakan saat akan dilakukan pemberian pakan.


  • Keranjang Plastik

Digunakan sebagai alat untuk menganggkut ikan dari dalam kolam saat akan dilakukan panen dan penyortiran.


  • Keranjang Sortir

Diigunakan sebagai alat untuk melakukan penyortiran.


  • Jaring dan Jala

Digunakan sebagai alat untuk menangkap ikan ketika saat melakukan panen, penyortiran maupun ketika melakukan tebar benih ikan. Jaring yang digunakan terdapat 2 macam yaitu : jaring halus dan jaring seser.


  • Timbangan Gantung

Digunakan sebagai alat untuk melakukan penimbangan berat ikan.


  • Timbangan Duduk

Digunakan sebagai alat untuk melakukan penimbangan berat ikan ketika melakukan penyortiran.


  • Jerigen Plastik

Digunakan sebagai alat untuk wadah penampung saat melakukan penjualan hasil panen.


Prasarana

Prasarana merupakan sarana penunjang dari sarana pokok dan sarana pendukung seperti listrik, jalan, kendaraan dan lain-lainnya

  • Listrik

Digunakan dalam budidaya untuk melakukan penerangan seperti lampu.


  • Jalan

Jalan ini berguna sebagai akses untuk menuju tempat lokasi budidaya ikan lele.


  • Kendaraan

Kendaraan yang digunakan berupa sepeda, sepeda motor dan mobil. Digunakan sebagai alat untuk menjuju tempat budidaya, mengangkut ikan ketika melakukan panen, penjualan hasil budidaya maupun ketika saat melakukan pengangkutan benih.


Persiapan Kolam

Terdapat berbagai macam tipe kolam yang bisa digunakan untuk tempat budidaya ikan lele. Setiap tipe kolam memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing bila dilihat dari segi usaha budidaya perikanan. Untuk melalukan budidaya ikan lele, harap pertimbangkan dahulu keadaan disekitar kolam yang ingin kita pakai, contohnya seperti kondisi lingkungan, air, ketersediaan tenaga kerja dan sumber dana ada dan faktor-faktor pendukung lainnya.

Tipe-tipe kolam yang paling umum digunakan dalam budidaya ikan lele adalah kolam tanah, kolam semen, kolam terpal, jaring apung dan keramba. Namun dalam artikel ini kita akan membahas budidaya ikan lele melalui kolam tanah, karena kolam ini paling banyak digunakan oleh para pembudidaya ikan. Tahapan yang harus dilakukan dalam menyiapkan kolam tanah adalah sebagai berikut :


  • Pengolahan Tanah

Sebelum benih ikan lele ditebar, kolam harus dikeringkan telebih dahulu. Lamanya pegeringan kolam tanah selama 3-7 hari atau tergantung pada teriknya sinar matahari. Sebagai acuan, apabila permukaan tanah sudah pecah-pecah atau retak-retak, kolam bisa dianggap sudah kering dan siap untuk dilakukan pengolahan tanah.

Pengeringan kolam bertujuan untuk memutus keberadaan mikroorganisme jahat yang menyebabkan bibit penyakit, menetralkan nitrit dan nitrat dan faktor lainnya yang dapat menyebabkan kerugian pada saat melakukan budidaya ikan lele. Mikroorganisme tersebut dapat bekembang dari periode budidaya ikan lele sebelumnya. Dengan pengeringan dan penjemuran, sebagian besar mikroorganisme patogen dan virus akan mati.

Setelah kolam dikeringkan, permukaan tanah lalu dibajak atau dibalik dengan cangkul pada keseluruhan permukaan tanah. Pembajakan tanah bertujuan untuk memperbaiki kegemburan tanah dan membuang gas beracun atau amonia yang masih berada didalam tanah.

Bersamaan pada saat melakukan proses pembajakan, terdapat lumpur hitam yang berada dibawah tanah lalu angkat lapisan lumpur hitam tersebut. Lumpur hitam tersebut biasanya berbau busuk karena menyimpan gas-gas beracun seperti hidrogen sulfida dan amonia. Gas-gas yang berbau busuk tersebut terbentuk karena sisa pakan yang tidak dimakan ikan.


  • Pemupukan dan Pengapuran

Pengapuran berfungsi untuk menyeimbangkan kadar keasaman atau pH kolam dan membantu memberantas mikroorganisme patogen dan virus. Jenis kapur yang digunakan adalah kapur aktif dan kapur mati. Pengapuran dilakukan dengan cara yaitu ditebar secara merata pada seluruh permukaan dasar kolam dan kapur yang digunakan pada saat perisapan lahan kolam adalah kapur aktif.

Setelah ditebar kapur, balik tanah dengan cangkul agar kapur meresap ke bagian dalam tanah. Dosis yang digunakan dalam pengapuran adalah 250-750gr/m2, atau tergantung pada tingkat keasaman tanah atau pH. Lalu langkah selanjutnya adalah melakukan pemupukan. Gunakan pupuk organik yang ditambah dengan pupuk urea dan TSP. Jenis pupuk organik yang dianjurkan adalah pupuk kompos atau pupuk kandang. Dosisnya sebanyak 250-500gr/m2.

Sedangkan pupuk kimianya adalah urea dan TSP masing-masing 15 – 10gr/m2. Pemupukan dasar kolam bertujuan untuk menumbuhkan biota air seperti fitoplankton, zooplakton dan cacing. Biota tersebut berguna untuk pakan alami ikan lele.


  • Pengaturan Air Kolam

Ketinggian air yang paling ideal untuk budidaya ikan lele kolam tanah adalah 100-120 cm. Pengisian kolam dilakukan secara bertahap. Sisakan 20-30 cm dari pematang kolam agar ikan lele tidak kabur atau melompat dari kolam.

Setelah kolam sudah diisi dengan air lalu lakukan pemupukan lagi pada kolam dan biarkan kolam terkena sinar matahari selama 3-7 hari. Dengan kedalaman seperti itu, sinar matahari dapat tembus hingga kedasar kolam dan memungkinkan untuk menumbuhkan biota dasar kolam seperti fitoplankton dan zooplankton agar tumbuh dengan baik.

Air kolam yang sudah ditumbuhi fitoplankton berwarna kehijauan dan kolam yang ditumbuhi zooplankton berwarna coklat dan kuning orange. Setelah 3-7 hari, benih ikan lele siap ditebar. Selanjutnya, air kolam ditambah secara berkala sesuai dengan kebutuhan pertumbuhan ikan lele sampai pada ketinggian ideal.


Pembenihan Ikan Lele

Tingkat kesuksesan dalam budidaya ikan lele sangat ditentukan oleh kualitas benih yang ditebar. Apabila benih yang didapat jelek maka akan dipastikan budidaya kalian akan gagal. Tapi jika kalian mampu melakukan teknik-teknik khusus dalam dunia perikanan walaupun kalian mendapatkan benih yang tidak bagus atau cacat maka kalian dapat melakukan panen dengan hasil yang maksimal. Benih ikan lele bisa didapatkan dengan cara membeli atau melakukan pemijahan ikan lele sendiri.


  • Syarat benih unggul

Benih yang ditebar haruslah benih yang benar-benar sehat. Ciri-ciri benih yang sehat antara lain adalah sebagai berikut : gerakannya gesit dan lincah, tidak terdapat cacat atau luka pada tubuhnya, bibit bebas dari penyakit dan gerakan renangnya normal.

Untuk menguji gerakannya renangnya, tempatkan benih ikan lele pada arus air, lalu lihat jika ikan tersebut melawan arah arus air dan bisa bertahan berarti gerakan renangnya baik tapi jika benih tersebut malah mengikuti arah arus air atau tidak melawan arah arus air maka dipastikan benih tersebut kurang baik.

Ukuran benih untuk budidaya ikan lele biasanya memiliki panjang sekitar 3-5cm, 5-7 cm. Usahakan ukurannya seragam atau sama rata agar ikan bisa berkembang dan tumbuh serempak. Dari benih sebesar itu, dalam jangka waktu pemeliharaan 2,5-3,5 bulan akan didapatkan ukuran ikan lele konsumsi yaitu sebesar 9-12 ekor/kg.


Pendederan Benih Ikan Lele

Sebelum benih ditebar atau didederkan, lakukan terlebih dahulu penyesuaian iklim kolam tersebut kepada benih yang akan ditebar. Caranya dengan, masukan air kolam secara sedikit demi sedikit pada benih dengan wadahnya (kantong plastik, ember/jeriken dll) ke dalam kolam.

Biarkan selama 15 menit agar benih beradaptasi dengan lingkungan kolam tersebut. Miringkan wadah (kantong plastik, ember/jerigen dll) dan biarkan benih keluar dengan sendiri dari wadahnya. Metode ini sangat bermanfaat untuk mencegah stres pada benih pada saat akan ditebar.

Tebarkan benih ikan lele ke dalam kolam dengan kepadatan 200-400 ekor per meter persegi. Semakin baik kualitas air kolam, semakin tinggi jumlah benih yang bisa ditampung. Hendaknya tinggi air tidak lebih dari 40 cm saat benih ditebar. Hal ini menjaga agar benih ikan bisa menjangkau permukaan air untuk mengambil pakan atau bernapas. Pengisian kolam berikutnya disesuaikan dengan ukuran tubuh ikan sampai mencapai ketinggian air yang ideal.


Cara Menghitung Padat Tebar

Menghitung pada tebar sangat diperlukan walapun kalian mendapatkan benih yang super bagus tapi bila ketika melakukan penebaran benih secara berlebihan makan hasil yang kalian dapat tidak akan maksimal, karena tingkat Mortarlitas (tingkat kematian) dan tingkat Survival Rate (SR atau Tingkat Kelangsungan Hidup) pada ikan lele sangat tinggi.

Rumus untuk menghitung jumlah padat tebar adalah:

Panjang x lebar x padat tebar = jumlah padat tebar

Berikut ini adalah cara untuk menghitung padat tebar pada kolam untuk budidaya ikan lele secara intensif. Asumsikan kedalaman kolam sekitar 1-1,5 meter (kedalaman yang dianjurkan). Maka kepadatan tebar bibit lele yang dianjurkan adalah 200-500 ekor/m2.

Sebagai contoh, untuk kolam yang berukuran 3 x 4 meter, maka jumlah padat tebar bibit ikannya minimal 3×4×200 = 2400 ekor, maksimal 3×4×500 = 6000 ekor.


Pakan Ikan

Pakan merupakan komponen biaya yang paling besar dalam budidaya ikan. Ada banyak sekali merek dan jenis pakan ikan di pasaran dan pakan harus disimpan ditempat yang kering. Pakan ikan lele yang baik adalah pakan yang menawarkan nilai Food Convertion Ratio (FCR) yang lebih kecil dari 1 (satu).

FCR adalah rasio jumlah pakan yang berbanding lurus dengan pertumbuhan ikan. Semakin kecil nilai FCR, maka semakin baik kualitas pakan. FCR merupakan salah satu indikator yang sangat penting dalam mencapai keberhasilan budidaya ikan dan nilai satuan dari FCR dinyatakan dengan persen (%).

Rumus Untuk Menghitung Food Convertion Ratio (FCR):

Jumlah padat tebar x berat rata-rata = jumlah total panen

Total pakan : jumlah total panen = Nilai FCR

Sebagai contoh untuk menghitung FCR

Diketahui

Jumlah padat tebar : 3000 ekor

Berat rata-rata ikan/ekor : 0,1gr

Jumlah total pakan 15 sak (1 sak = 20kg) = 300kg

Maka untuk menghitung FCR nya adalah

3000 x 0,1gr = 300kg

300 : 300 = 1%

Untuk mencapai hasil yang maksimal dengan biaya yang minimal, terapkan pemberian pakan utama dan pakan alternatif secara imbang dengan artian begini bila pagi dilakukan pemberian pakan utama maka siang hari diberi pakan alternatif dan malam hari dilakukan pencampuran pakan utama dan pakan alternatif pada saat ingin melakukan pemberian pakan. Bila pakan pabrik terasa mahal dan rasanya menguras untuk biaya, silahkan coba membuat sendiri pakan alternatif.


  • Pemberian pakan utama

Sebagai ikan karnivora, pakan ikan lele haruslah banyak yang mengandung protein hewani. Secara umum kandungan nutrisi yang dibutuhkan ikan lele adalah protein minimal 30%, lemak 4-16%, karbohidrat 15-20), mineral dan vitamin.

Terdapat berbagai macam jenis pelet yang dijual dipasar rata-rata sudah dilengkapi dengan keterangan kandungan nutrisinya. Tinggal kita pandai-pandai saja memilih mana yang menurut kita bagus. Ingat, jangan kalian sampai membeli pakan kadaluarsa.

Pakan yang harus diberikan sesuai dengan kebutuhan kandungan gizi ikan. Secara umum setiap harinya ikan lele memerlukan pakan sekitar 3-6% dari total bobot tubuhnya. Misalkan, ikan lele dengan bobot 50 gr memerlukan pakan sebanyak 2,5 gr (5% dari total bobot tubuh) per ekor. Kemudian setiap 14 hari harus dilakukan sampling agar dapat diketahui laju pertumbuhan ikan.

lalu timbang dan sesuaikan lagi jumlah pakan yang akan diberikan. Dua minggu sebelum melakukan panen, persentase pemberian pakan harus dikurangi menjadi 3% dari total bobot tubuh. Jadwal pemberian pakan sebaiknya disesuaikan dengan nafsu makan ikan dan kalian harus tau kapan ikan aktif pada saatnya karena pada saat ikan aktif maka jumlah pemberian pakan harus lebih banyak dari pada biasanya.

Karena artikel ini membahas tentang budidaya ikan lele maka admin menyarankan pada saat pemberian pakan pada malam hari, jumlah pakan harus lebih banyak dari biasanya mengingat ikan lele ini merupakan hewan nokturnal atau hewan yang aktif pada malam hari dan memiliki Tingkat Mortalitas dan Tingkat Survival Rate yang tinggi.

Frekuensinya 4-5 kali sehari. Frekuensi pemberian pakan pada ikan yang masih kecil harus lebih sering atau lebih banyak dan bila sudah besar maka frekuensi pakan harus dikurangi. Waktu pemberian pakan bisa pagi, siang, sore dan malam hari.

Contoh Frekuensi Pemberian Pakan pada ikan saat masih kecil adalah sebagai berikut :

Pagi jam 07.00

Siang jam 11.00

Sore jam 15.00

Malam jam 19.00

Tengah malam 23.00

Contoh pemberian pakan pada ikan yang sudah dewasa adalah sebagai berikut :

Pagi jam 07.00

Siang jam 11.00

Malam jam 19.00

Tengah malam 23.00


  • Pemberian Pakan Alternatif

Selain pakan utama, dapat juga dipertimbangkan untuk memberi pakan alternatif. Pemberian pakan alternatif sangat membantu untuk menghemat biaya pengeluaran pakan yang menguras kantong. Apabila kolam kita dekat dengan pelelangan ikan, dan pasar dapat dipertimbangkan untuk melakukan pemberian pakan alternatif berupa ikan rucah segar.

Ikan rucah adalah hasil tangkapan nelayan yang tidak layak dikonsumsi untuk manusia karena ukuran atau cacat dalam penangkapannya. Bisa juga dengan membuat belatung dan dicampur ampas tahu. Keong mas dan limbah ayam dapat diberikan dengan pengolahan terlebih dahulu. Pengolahannya ini bisa dilakukan dengan perebusan dan pembakaran. Kemudian pisahkan daging keong mas dengan cangkangnya, lalu dicincang atau dipotong kecil-kecil atau dirucah lalu diberikan pada ikan lele.

Untuk limbah ayam bersihkan terlebih dahulu bulu-bulunya lalu dibakar dan ketika sudah dibakar siapkan ember dan cairan EM4 atau Molase lalu isi ember dengan air dan dicampur dengan cairan EM4 secukupnya lalu masukan limbah ayam kedalam ember yang sudah berisi EM4 atau Molase dan potong limbah ayam dengan ukuran yang kecil sebelum diberikan pada lele.

Satu hal yang harus diperhatikan dalam pemberikan pakan ikan lele adalah jangan sampai telat ataupun kurang. Karena ikan lele mempunyai sifat kanibal, yaitu suka memangsa sejenisnya. Apabila kekurangan makanan, ikan-ikan yang lebih besar ukurannya akan memangsa ikan yang lebih kecil.


Pengelolaan Kualitas Air

Hal lain yang penting dalam budidaya ikan lele adalah pengelolaan Kualitas air. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal kualitas dan kuantitas air harus tetap terjaga. Awasi kualitas air dari sisa pakan yang tidak habis di dasar kolam. Timbunan tersebut akan menimbulkan gas amonia atau hidrogen sulfida yang dicirikan dengan adanya bau busuk.

Pada saat melakukan pengelolaan kualitas air pengapuran, pemupukan, dan pemberian cairan EM4 atau Molase dan lain-lainya masih dilakukan hingga saat akan dilakukan panen. Apabila sudah muncul bau busuk pada kolam, buang 1/3 air pada bagian bawah kolam. Kemudian isi lagi dengan air yang baru.

Frekuensi pembuangan air ini sangat tergantung pada sisa-sisa pakan yang tidak dimakan secara maksimal oleh ikan lele. Apabila dalam pemberian pakan yang terlalu banyak dapat menimbulkan sisa pakan yang banyak dan air akan cepat berbau, dan pergantian air akan lebih sering dilakukan.


  • Pemberian Pupuk

Pemberian pupuk sangat dianjurkan apabila didalam kolam sudah tidak terdapat lagi pakan alami seperti fitoplankton dan zooplankton. Karena pakan alami ini sangat membantu dalam budidaya ikan. Pembrian pupuk bertujuan untuk menumbuhkan pakan alami dan menjaga Kualitas air


  • Pemberian Kapur

Dalam pemberian kapur ini bertujuan untuk menjaga tingkat keasaman (pH) tanah dan air, dapat menjaga kualitas suatu perairan dan sekaligus berguna untuk memberantas. Kapur yang diberikan biasanya terdapat 2 macam yaitu kapur aktif dan kapur non aktif. Kapur aktif akan digunakan dalam persiapan kolam dan kapur non aktif akan digunakan pada saat kolam sudah terisi ikan lele.


  • Pemberian EM4 atau Molase

Pemberian EM4 atau Molase ini sangat dianjurkan apabila ketika keadaan kolam sudah berbau busuk akibat sisa pakan yang menumpuk pada dasar kolam dan ketika kita malas untuk melakukan pergantian air.

EM4 atau Molase ini berguna untuk mempercepat proses pembusukan, dapat menghilangkan bau busuk dan zat-zat berbahaya seperti nitrit, nitrat dan amonia yang dihasilkan dari sisa pakan ikan yang tidak termakan oleh ikan secara maksimal, dapat membunuh bakteri jahat seperti virus.


Sampling

Sampling adalah proses seleksi dalam sebuah kegiatan observasi. Proses seleksi yang dimaksud di sini adalah proses untuk mendapatkan sampel pada sebuah benda atau makluk hidup untuk melihat jumlah kepadatan populasi, sebarannya dalam habitat, mencari jumlah berat rata-rata pada ikan, dan melihat laju petumbuhan ikan dalam kurun waktu tertentu.

Melakukan sampling sangat diperlukan karena tidak mungkin untuk dilakukan pengamatan terhadap keseluruhan populasi dilakukan. Biasanya sampling dilakukan dalam frekuensi 14 hari sekali. Berikut adalah cara untuk melakukan sampling:


Persiapan Sampling

Siapkan alat-alat yang akan digunakan untuk melakukan sampling seperti : jaring, ember, mistar, timbangan duduk, buku, pena dll


Cara melakukan sampling

  • Ambil 4-5 ekor ikan pada titik yang berbeda atau pada setiap sudut kolam.
  • Masukan ikan pada ember yang sudah diisi air.
  • Lalu timbang berat ikan menggunakan timbangan duduk dan ukur panjang ikan dan lebar ikan menggunakan mistar.
  • Catat hasil berat ikan, panjang ikan dan lebar ikan tadi dengan mengunakan buku dan pena.
  • Nah ketika sudah dapat data ikannya kita dapat mengetahui total berat rata-rata ikan, panjang rata-rata ikan dan lebar rata-rata ikan.

Berikut adalah rumus dan cara untuk menghitung total berat rata-rata biomassa ikan

jumlah berat rata-rata ikan x jumlah padat tebar = total berat rata-rata biomassa ikan

Cara untuk mengetahui total berat rata-rata ikan adalah

Jumlah total berat ikan sampel : jumlah total ikan sampel

Contoh :

IkanTotal berat
10,04 gram
20,02 gram
30,03 gram
40,05 gram
50,04 gram
60,06 gram
70,01 gram
80,02 gram
90,03 gram
100,02 gram
110,04 gram
120,01 gram
130,06 gram
140,03 gram
150,02 gram
160,05 gram
170,01 gram
180,02 gram
190,01 gram
200,04 gram
 jumlah0,61gram

Diketahui jumlah total nya 0,61 gram dan untuk mengetahui jumlah berat rata-ratanya adalah :

0,61 gram : 20 = 0,0305 gram/ekor.


Hama dan Penyakit ikan

Dalam budidaya ikan terdapat hama yang sangat menganggu dalam kelangsungan budidaya ikan kita. Hama ini sangat meresahkan mengingat hama ini dapat memangsa ikan kita, merusak prasarana kita, memakan pakan kita dll. Hama dibagi menjadi 2 bagian yaitu hama predator dan hama kompetitor. Hama predator yang paling umum dalam budidaya ikan lele seperti seperti linsang, ular, biawak, musang air dan burung.

Sedangkan hama kompetiror atau yang menjadi pesaing antara lain ikan mujair dan ikan sepat. Untuk mencegah hama masuk ke dalam kolam yaitu dengan cara memasang saringan atau jaring pada jalur masuk dan keluar air atau memasang pagar di sekeliling kolam lalu pada atas kolam ditutup dengan jaring. Penyakit pada budidaya ikan lele berasal dari protozoa, bakteri dan virus. Ketiga mikroorganisme ini dapat menyebabkan berbagai macam penyakit yang mematikan.

Beberapa diantaranya adalah White Spot, perut kembung dan luka di kepala dan ekor. Untuk mencegah munculnya penyakit infeksi adalah dengan cara menjaga kualitas air, mengontrol pemberian pakan, menjaga kebersihan kolam, dan mempertahankan suhu kolam pada kisaran 26-30°C (suhu ideal untuk budidaya ikan lele). Selain penyakit dari infeksi, ikan lele juga dapat terserang penyakit non-infeksi seperti kuning, kekurangan vitamin dan lain-lain.


Panen

Panen merupakan hal yang ditunggu-tunggu oleh para petani budidaya ikan. Sebab jika kalian sudah melakukan budidaya tapi ikan tak kunjung panen maka sudah bisa dipastikan budidaya ikan kalian dikatakan gagal.

Karena percuma saja bila kalian sudah melakukan budidaya ikan tapi ikan yang kalian budidayakan tak kunjung panen yang ada kalian hanya mendapatkan kegagalan dan kerugian waktu, tenaga dan materi. Ketika ingin melakukan panen banyak sekali yang harus kalian persiapkan.

Berikut adalah tahapan-tahapan untuk melakukan panen ikan:


  • Persiapan panen

Ketika kita ingin melakukan panen tentunya kita harus menyiapkan berbagai macam hal yang harus di persiapkan dan tentunya prasarana pendukung yang memadai.

Persiapan panen ini meliputi alat , prasarana, tempat untuk pemasaran ikan dll. Persiapan alat meliputi : jaring, jala, timbangan, kantong plastik, tabung oksigen, karet, ember, jerigen, dll.

Persiapan prasarana seperti : motor dan mobil yang berguna untuk membawa ikan ke tempat penjualan. Tempat untuk pemasaran seperti : pasar, rumah makan, warung kecil, rumah pribadi dll.


  • Tahapan Melakukan Panen

Ketika ikan lele yang kalian budidayakan sudah berumur 2,5 – 3,5 bulan maka saat itu lah pemanenan ikan dilakukan. Tapi pahami dahulu kebutuhan pasar ketika kalian ingin melakukan pemanenan dan kalian juga harus paham dengan tempat yang sangat strategis untuk berjualan agar pemasaran ikan kalian dapat terjual secara maksimal.

Jika kalian tidak paham dengan tempat yang strategis maka dapat dipastikan ikan kalian tidak dapat terjual secara maksimal atau ikan kalian akan mati dan kalian hanya akan mendapatkan kerugian. Sebelum 1 hari melakukan panen, sebaiknya ikan lele tidak diberi pakan atau dipuasakan agar saat diangkut atau ketika melakukan ikan lele tidak mudah stress dan ikan lele tidak mudah mati yang dapat mengakibatkan kerugian.

Pada saat ikan lele dipanen lakukan sortasi untuk mendapatkan lele yang seragam atau ukurannya sama rata. Pemisahan ukuran juga berdampak pada harga ikan. Ikan lele yang sudah disortasi berdasarkan ukuran akan meningkatkan pendapatan bagi peternak.


Tahapan-Tahapan Pemanenan

  • Sebelum 1 hari menjelang panen ikan harus dipuasakan agar tidak stress dan mati saat dilakukan panen.
  • Kolam harus dikeringkan atau dibuang airnya dan sisakan ketinggian air sekitar 20 cm dari dasar kolam.
  • Tangkap ikan dengan menggunakan jala atau jaring hingga ikan yang berada dikolam habis tidak tersisa lagi.
  • Ikan yang sudah ditangkap lalu dilakukan penyortiran terlebih dahulu untuk mendapatkan hasil yang seragam dan berat yang sama rata.
  • Ikan yang sudah dilakukan penyortiran lalu dimasukan kedalam kantong plastik atau jerigen. Untuk kantong plastik harus dilakukan pemberian oksigen murni agar ikan tidak mudah mati saat dilakukan pengiriman ikan lalu ikat ujung kantong plastik dengan menggunakan karet. Untuk jerigen harap diberi tumbuhan seperti eceng gondok gunanya untuk menjaga suhu didalam jerigen.
  • Ikan yang sudah dimasukan kedalam kantong plastik atau ke jerigen selanjutnya dibawa ke motor atau mobil yang selanjutnya akan dpipasarkan

Demikian sedikit pembahasan mengenai Cara Budidaya Ikan Lele di Kolam Tanah Agar Cepat Panen semoga dengan adanya pembahasan ini dapat menambah wawasan dan pengetahuan untuk kita semua, dan kami ucapkan Terima Kasih telah menyimak ulasan kami.

Baca juga artikel tentang :

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save